Skandal Dugaan Penggelapan Sapi Bantuan: Struktur Kelompok Didominasi Keluarga Oknum DPRD Lamsel
Royalnews17.com – Skandal dugaan penggelapan sapi bantuan milik Kelompok Tani Sahabat Tani di Desa Kuala Sekampung, Kecamatan Sragi, Kabupaten Lampung Selatan, mencuat ke publik. Pengelolaan bantuan tersebut diduga dikendalikan oleh anggota Komisi IV DPRD Lampung Selatan berinisial TM, mulai dari proses penjualan hingga pengelolaan internal kelompok.
Bantuan sebanyak 20 ekor sapi tersebut diketahui berasal dari program aspirasi anggota Komisi IV DPR RI, Sudin, yang digulirkan sejak tahun 2021. Namun, dalam pelaksanaannya, struktur kelompok disebut didominasi oleh keluarga TM.
Dalam proposal kelompok, sejumlah posisi strategis diisi oleh keluarga dekat TM, mulai dari menantu sebagai ketua kelompok, anak kandung atau istrinya ketua kelompok, istri TM, adik, orang tua hingga keponakan. Hal ini diakui langsung oleh TM saat dikonfirmasi melalui telepon pada Sabtu (11/4/2026).
Meski bukan tercatat sebagai anggota kelompok, TM diduga memiliki kendali atas sapi bantuan tersebut. Hal ini diungkapkan oleh salah satu pengurus kelompok, Marimun.
“Kalau ada uang dikasih, kadang Rp1 juta, kadang Rp2 juta, tapi tidak tentu,” kata Marimun.
Ia juga mengaku pernah menerima bagian sebesar Rp20 juta dari hasil penjualan lima ekor sapi, namun tidak mengetahui harga jualnya karena seluruh proses dikendalikan oleh TM.
“Iya itu uang pribadi saya, namanya ini kaitannya masih dengan anak. Bukan mengendalikan tapi membantu biar diarakan ke yang baik. Mau darimanalah untungnya ternak sapi,” ucap TM mengakui perna memberikan uang kepada Marimun sebesar Rp20 juta dari kantong pribadinya.
TM juga menyebut bahwa dirinya memberikan upah kepada Marimun dari kantong pribadi.
“Setiap bulan juga tak bayar kadang Rp500 kadang Rp1 juta masa kerja gak dibayar. Saya juga sudah konfirmasi ke dinas kalau itu mau dialihkan ya dialihkan saja dari pada jadi simalahkamah,” katanya.
Terkait kondisi ternak, TM menjelaskan bahwa sebagian sapi sempat terdampak penyakit.
“Sapi itu ada 20 yang mati 2, ada yang kena serangan PMK sampe gak bisa berdiri, udah kita ganti yang dijual terkena PMK,” jelasnya.
Sebelumnya diberitakan, dari total 20 ekor sapi bantuan, sempat tersisa 14 ekor indukan yang masih dirawat. Namun setelah kasus ini mencuat, TM disebut mengembalikan 4 ekor sapi ke kandang kelompok Sahabat Tani. Saat ini jumlah sapi menjadi 18 ekor indukan ditambah 1 ekor anakan.
Sementara itu, istri TM yang juga tercatat sebagai anggota kelompok mengaku tidak mengetahui aktivitas pengelolaan sapi tersebut.
“Gak perna ngurusin gak tau pak. Saya gak perna tau urusan itu masa bodo,” ujarnya.
Kasus ini memunculkan pertanyaan serius terkait transparansi dan akuntabilitas pengelolaan bantuan pemerintah, serta berpotensi menjadi perhatian aparat penegak hukum untuk dilakukan penelusuran lebih lanjut.

