LampungLampung Selatan

MBG Palas Disorot Cacat, Ahli Gizi Rekomendasikan Menu yang Diduga Tidak Penuhi Unsur Gizi

Royalnews17.com – Program unggulan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG), yang diluncurkan di Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan, menuai sorotan. Pasalnya, pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diduga merekomendasikan menu MBG yang tidak memenuhi unsur gizi, sehingga dinilai memaksakan pelaksanaan program nasional ini.

Peluncuran program MBG yang digelar oleh SPPG Desa Bumi Restu pada Selasa, 10 Juni 2025, menjadi perbincangan setelah ditemukan adanya perbedaan menu makanan yang diterima oleh para siswa di MTS Ma’arif Bumi Restu. Dari total 227 siswa, sekitar 180 siswa menerima menu berbeda dibandingkan siswa lainnya.

Sebagian siswa memperoleh menu utama berupa nasi, ayam, sayur, dan buah jeruk. Namun, sebagian lainnya hanya mendapatkan nasi, telur rebus, buah jeruk, serta dua bungkus makanan ringan dalam kemasan, yakni biskuit Malkist dan kue Padi Mas.

Kepala SPPG Bumi Restu, Dilika Oktavia, membenarkan adanya ketidaksesuaian tersebut.

“Iya ada sekitar kurang lebih 180 porsi, sebenarnya sudah kami siapkan semua, untuk perhitungan itu sudah pas, namun kemungkinan yang kerja menyiapkan menu makanan porsinya lebih, maka terjadi kekurangan itu. Iya kami masih tahap belajar,” kata Dilika saat diwawancarai di kantor SPPG Desa Bumi Restu pada Kamis, 12 Juni 2025.

Ketika ditanya apakah 180 porsi makanan tersebut telah memenuhi standar gizi, Dilika mengakui bahwa menu tersebut memang belum memenuhi unsur gizi.

Pernyataan itu juga diperkuat oleh Gede Prestimana, yang bertugas sebagai bidang ahli gizi di SPPG Bumi Restu. Ia mengakui bahwa dirinya yang merekomendasikan menu tersebut meskipun sadar bahwa kandungan gizinya tidak mencukupi.

“Sebenarnya belum memenuhi unsur gizi menu itu, tapi itu tindakan cepat agar 180 porsi MBG yang kurang bisa terpenuhi,” ucapnya.

Gede juga menjelaskan penyebab menu utama berbahan ayam tidak jadi digunakan dalam seluruh porsi makanan.

“Kita pesan ayam, dan ayam itu datang. Namun ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan apa yang kami pesan. Jadi ayam itu ada yang masih ada ususnya, ada cekernya, ada kepalanya. Padahal sejak awal kami pesan ayam tanpa jeroan, ceker, dan kepala,” terang Gede Prestimana.

Ia melanjutkan bahwa keterlambatan waktu turut memengaruhi keputusan darurat tersebut.

“Dengan adanya pesanan yang tidak sesuai dan karena waktunya sudah siang, jadi tidak terkejar lagi kalau dipaksakan memasak ayam tersebut. Lalu, sebagai gantinya kami pakai telur rebus, nasi, Malkist, jeruk, dan roti,” tambahnya.

Lebih lanjut, diketahui bahwa hingga kini Gede belum menerima Surat Keputusan (SK) resmi sebagai bidang ahli gizi dari Badan Pengawas.

“Dari Badan Pengawas belum mengeluarkan SK. Badan Gizi Nasional sedang proses, Pak,” jelas Gede Prestimana, yang diketahui merupakan lulusan diploma (D3) dari Politeknik Kesehatan Lampung.

Program MBG sendiri digagas sebagai langkah strategis dalam mendukung swasembada pangan, menekan angka kekurangan gizi, dan mendorong kesejahteraan masyarakat, terutama anak-anak sekolah di wilayah pedesaan seperti Lampung Selatan.

Setiap menu makanan dalam program MBG seharusnya dirancang berdasarkan pedoman gizi yang ditetapkan oleh Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi). Menu harian wajib bervariasi dan mencakup elemen gizi seperti karbohidrat, protein hewani, sayuran, dan buah.

Aturan-aturan Menu MBG:
1. Standar Komposisi Gizi:
Menu harus memenuhi komposisi gizi yang ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN), termasuk karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral.
2. Pemanfaatan Bahan Pangan Lokal:
Disarankan menggunakan bahan pangan lokal untuk memberdayakan masyarakat dan mengurangi ketergantungan impor.
3. Kesesuaian dengan Selera Lokal:
Menu perlu mempertimbangkan kebiasaan makan dan preferensi lokal agar lebih diterima oleh anak-anak.
4. Keamanan Pangan:
Menu harus aman dikonsumsi, bebas dari kontaminasi, serta diolah secara higienis sesuai standar sanitasi.
5. Variasi Menu:
Penting dilakukan variasi agar siswa tidak bosan dan tetap semangat menyantap makanan.
6. Penampilan Makanan:
Makanan harus ditata menarik agar meningkatkan selera makan anak-anak.
7. Penyajian:
Menu dapat disajikan langsung di sekolah sebagai makan siang, atau dibawa pulang untuk dikonsumsi di rumah, khususnya saat bulan Ramadan.

Dengan adanya kejadian ini, pelaksanaan program MBG diharapkan dievaluasi secara menyeluruh agar dapat benar-benar memberikan manfaat maksimal bagi kesehatan dan kesejahteraan siswa, serta tetap sejalan dengan tujuan besar dari program nasional tersebut. (tim).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *