LampungLampung Selatan

Musim Kemarau Melanda, Jasa Pembuatan Sumur Bor Banjir Job

Royalnews17.com — Musim kemarau melanda, membawa berkah bagi jasa pembuatan sumur bor yang saat ini mendapat banyak job, salah satunya yang ada di Kecamatan Palas Kabupaten Lampung Selatan dan sekitarnya.

Pasalnya, area persawahan dan ladang yang ada di Kecamatan Palas mengalami kerisis air untuk menyirami tanaman petani, tak hanya itu saat ini juga permukiman warga mengalami kerisis air bersih, sehingga warga kesulitan mendapat air bersih.

Armansyah, S.Kom wartawan Exspost.com mengaku sumurnya mengalami kekeringan pada tahun 2023 ini dan ia kesulitan mendapatkan air bersih.

“Sumur dirumah sudah kering sekarang, jadi mau mandi dan kebutuhan lainnya agak sulit harus nunggu air dari sumur keluar, itupun cuma dikit. Kemarau tahun lalu gak ampai kering seperti ini,” kata warga Desa Kalirejo Kecamatan Palas itu pada Kamis, (14/9/2023).

Armansyah juga mengatakan secepatnya akan membuat sumur bor di kediamannya agar tidak kesulitan air bersih, namun ia mengaku mendapat kendala pada saat akan membuat sumur bor di rumahnya.

“Saya sudah ke toko material memastikan dan akan memesan alat-alat yang akan digunakan untuk sumur bor, tapi jasa pembuatan sumur bornya masih pada mengerjakan sumur bor di tempat lain,” ucap Arman sapaan akrabnya.

Untuk segera mendapatkan air bersih bahkan Arman warga Desa Kalirejo itu berani membayar lebih jika pada hari ini dapat melakukan pembuatan sumur bor di rumahnya.

“Sudah 6 jasa pembuatan sumur bor yang saya hubungi, semuanya penuh,” tuturnya.

Terpisah, sementara itu Imam warga Desa Bumi Daya Kecamatan Palas salah satu personil jasa pembuatan sumur bor membenarkan jika dirinya sudah di hubungi oleh Arman untuk membuat sumur bor dirumahnya.

“Ya mas, Arman sudah menghubungi saya, kalau untuk hari ini belum bisa karena kami masih kerja. Insyaallah besok itupun belum bisa kami pastikan, kalau yang ini sudah benar-benar beres besok pagi kami bilang bisa, langsung kami kerjakan,” kata Imam.

Perlu diketahui Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat puncak musim kemarau terjadi pada 2023, dikutitip dari media Kompas.com, adapun saat ini, jumlah zona musim atau wilayah Indonesia yang telah memasuki musim kemarau mencapai 60 persen.

“60 persen wilayah yang sudah memasuki musim kemarau, yaitu sebagian besar Aceh, Sumatra Utara, Riau, Bengkulu, Sumatra Selatan, Bangka Belitung bagian selatan, Lampung, Banten, dan DKI Jakarta,” kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, dalam siaran pers, Rabu (5/7/2023).

Kemudian, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Tengah bagian selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur bagian selatan, Gorontalo, Sulawesi Tengah bagian utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara bagian selatan, Maluku Utara, dan Papua bagian selatan.

Guswanto mengatakan, masuknya musim kemarau disertai dengan munculnya fenomena el nino mulai dengan kategori Lemah pada pertengahan tahun 2023.

El Nino merupakan suatu fenomena atmosfer skala global yang dapat berdampak pada pengurangan curah hujan di sebagian wilayah Indonesia.

“Fenomena el nino di bulan Juni 2023 masih berada pada kategori lemah dan diprakirakan dapat meningkat mencapai kategori moderat sampai Oktober 2023 dengan kecenderungan menurun menuju intensitas lemah pada November 2023,” ujar Guswanto.

Karena el nino masih lemah, BMKG mengidentifikasi masih terdapat hujan yang turun di beberapa wilayah dengan beberapa kategori.

Guswanto mengungkapkan, beberapa wilayah bahkan masih dilanda hujan kategori lebat hingga sangat lebat. Wilayah-wilayah tersebut, yaitu sebagian wilayah Kepulauan Riau, Jambi, Kalimantan Barat, dan Bali.

Sedangkan hujan ringan sampai sedang terjadi di sebagian Aceh, Riau, Sumatra Selatan, dan Bangka Belitung.

Kemudian, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku, Gorontalo, dan Papua.

“Perlu dipahami bahwa cuaca dan iklim di wilayah Indonesia itu dipicu oleh berbagai faktor dinamika atmosfer, mulai dari skala global hingga regional dan lokal. Hingga awal Juli ini, faktor dinamika atmosfer global yang aktif adalah el nino dengan kategori lemah,” kata Guswanto.

(yd).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *